Unconventional Media, Mainan Anak Tradisional Tempo Dulu di EXPOSIGN
Posted by public is not a liar
Tahun 1991, saat itu saya masih di bangku Sekolah Dasar, saya tinggal di sebuah kampung di Yogyakarta bernama Gowongan Kidul sampai sekarang. Letaknya tak jauh dari Malioboro, sekitar 200 m ke utara dari Stasiun Kreta Api. Di tahun 90 an, Yogyakarta benar-benar kota yang berbeda, kota yang tak terlalu ramai seperti saat ini. Dulu saya ingat saat liburan datang saya beserta teman-teman saya bangun pagi-pagi, mencari laron di musim hujan, bermain sepanjang hari tanpa kami mengeluh karena cuacanya sangat panas. Dulu kalo saya dan teman-teman mau mencari jangkrik, kami tidak harus bersusah-susah ke sawah atau pergi ke tempat-tempat tertentu, kita cukup mencari jangkrik di trotoar Jl. Mangkubumi atau rel kreta api ( sekarang lebih banyak kecoanya daripada jangkriknya). Atau kalo kita bicara mengenai permainan masa kecil, saya lebih suka main perang-perangan atau kami biasa menyebutnya ‘Bedhil-bedhil’ an. Waktu itu game bot juga lagi heboh, tapi ga seheboh mainan kampung saya ini. Saya yakin setiap daerah di Yogya atau kota-kota di Indonesia mempunyai keragaman permainan tradisional seperti di kampung saya, hanya saja kadang aplikasinya berbeda.
Sungguh saya merasakan sesuatu yang sentimentil saat mencoba membawa kembali permainan tersebut dan merangkumnya menjadi sebuah karya interaktif ‘Wahana Tempur Kecil’ di Pameran Besar Civitas Akademika Institut Seni Indonesia Yogyakarta, EXPOSIGN di Jogja Expo Center.
Wahana Tempur Gowongan Kidul 1991
Suatu sore di tahun 1991, saat itu saya di tugaskan menjadi komandan kedua setelah mas Sigit paimo untuk memimpin pasukan kami, kami sepasukan berjumlah 5 kadang 7 orang kalo lengkap. Ada Toto ‘Togel’, Roby ‘Ndoi’, Sigit ‘Paimo’, Anjar ‘Tebo’, Bayu ‘Mrongoz’, Dani ‘Mumet’ dan nama dengan embel-embel unik lainnya. Di kampung saya, dulu dan hingga sekarang, tidak ada satu orang pun yang dipanggil dengan nama aslinya, saya sendiri kebagian nama Ndoi, nama spontan dari mas Bayu Mrongoz, yang saya dapatkan setelah kepala saya kena smash bola voly dengan telak pas event 17agustus’an di kampung, saat itulah nama saya dipanggil ‘Ndoi’. Saya sempat bertanya kepada mas Bayu ‘Mrongoz’ apa arti kata tersebut. Dia berkata ‘aku kelingan ketoprak humor mau bengi, pas adegan Marwoto Kawer ngageti Didik Nini Thowok, pas ujug-ujug mbukak lawang kamar mandi. Pas kuwi Didik Nini Thowok sing lagi nguyuh kaget, terus spontan karo nyincing jarik deweke ngomong ‘Ndoi’ !!!
senjata seperti ceplokan, senapan penthil dan dobles.
Ada juga buah-buahan yang agak jarang kita jumpai saat ini
seperti ciplukan, talok, kokosan dan duet.
Kami biasanya bermain dengan serius, senjata yang kami gunakan untuk bedhil-bedhilan mempunyai cara kerja yang hampir sama dengan ketapel, pelurunya terbuat dari ranting kayu waru yang jika mengenai tubuh hanya akan terasa perih namun tidak melukai. Aturan yang diberlakukan pun sedikit ketat, kami tidak boleh menembak di daerah dada ke atas, karena kami tidak menggunakan pelindung badan. Peluru yang digunakan pun harus dari kayu waru, jika ada yang menggunakan peluru dengan bahan kayu lain seperti kayu jambu atau nangka maka dia akan di diskualifikasi dan biasanya tidak boleh ikut perang-perangan lagi.
saya yakin 'panjenengan' pernah menjadi anak-anak yang bandel!!
dengan antusias dan penuh semangat
Selain senjata untuk perang-perangan, kami juga memainkan senjata-senjata yang hanya mengeluarkan suara tapi tidak membahayakan orang lain. Seperti ‘ceplokan’, ‘ceplokan’ adalah senjata mainan yang dibuat dengan bahan bambu berdiameter kecil dan menggunakan kertas koran basah atau bunga buah jambu yang masih kecil sebagai peluru. Sensasi suara ceplokan selalu membuat saya penasaran, karena sensasi bunyi nya tidak selalu seperti yang kita harapkan, kadang keras kadang nggak, namun hal tersebut justru membuat setiap orang yang memainkan ceplokan menjadi ketagihan dan selalu ingin mencobanya.
Selain ceplokan dengan sensasi suaranya, masih ada ‘dobles busi’ maupun ‘pistol dobles’ dengan suara mirip petasan. Mainan dobles yang menggunakan busi, baut dan kawat sebagai piranti kerasnya lalu penggunaan bubuk korek api dan kertas koreknya sebagai hulu ledak pengganti mesiu, membuat permainan ini dibenci. Orang-orang tua di kampung saya saat itu menganggap permainan tersebut ilegal, karena suara yang dihasilkan mirip dengan petasan besar yang menghasilkan efek ledak yang luar biasa kerasnya. Dikhawatirkan suaranya akan membuat kegaduhan secara masif dan mendadak bisa menghantar penderita jantung ke tempat peristirahatan terakhir mereka…( lebay mode on )
Selain permainan tradisional di atas, masih banyak jenis permainan tradisional yang terdapat di seluruh pelosok negeri ini. Namun tidak banyak anak yang memainkannya saat ini, mungkin hanya si Bolang yang masih memainkannya hingga saat ini. Tapi mungkin juga si Bolang memainkannya karena dia sedang masuk TV dan di setting untuk memainkannya, kalo di rumah ya si Bolang mungkin lebih memilih PS 3 atau bikin status I’m in Relationship di Facebook’nya. Heheh.




